Pluralisme Agama dalam Studi Islam
A.
A. Pendahuluan
Dalam perspektif
universal, manusia sulit hidup tanpa sebuah agama. Dimana segala macam manusia
mencari sebuah kebenaran di antara yang lainnya. Agama tentunya merupakan
sebuah keseluruhan dari segala aktivitas, ideology dan sikap manusia. Seperti
manusia bisa memunculkan sikap baik tentunya lahir dari sebuah konsep yang rill
yaitu agama. Dengan agama, manusia hidup menjadi terarah dan menjadikannya
sebagai humanism.
Akhir ini,
telah bergumam konsep yang menyatakan semua agama adalah sama dan salah satu
agama tidak bisa menjustifikasi agama yang lainnya dengan sebuah kebenaran
(relativisme).[1]
Bahwa segala agama-agama yang berada di dunia semua berasal dari Yesus dan
menuju ke Yesus.[2]
Konsep itu menjelaskan bahwa semua agama itu benar dan kebenaran tersebut
berasal dari Yesus dan akan kembali ke Yesus.[3] Di
lain konsep dikatakan pula, semua agama seperti Yahudi, Nasrani dan Muslim
tidak bisa mengatakan agamanya benar karna kita bukanlah hakim untuk agamanya,
karena setiap jiwa memiliki agama khusus untuk dirinya sendiri, dan tidak ada
orang lain yang mempunyai hak untuk menilai agamanya.[4]
Manusia dibimbing oleh setiap agamanya untuk menuju Tuhan dan itu merupakan
tujuan dan maksud dari setiap agama. Hal ini tentunya melenceng dalam Islam
jika menyatakan semua agama adalah sama kebenarannya.
Telah banyak
argument-argumen yang melibatkan bahwa seluruh agama itu sama kebenarannya
yaitu menuju Tuhan yang sama bahkan beragumen Tuhan sejati dari setiap agama
termasuk Islam adalah Yesus. Konsep mereka masuk dalam Islam dengan
berlandaskan toleransi agama. Mereka mengatakan bahwa setiap manusia mempunyai
hak dan tidak bisa mengatakan bahwa agamanyalah yang paling benar. Sejatinya
toleransi menurut mereka adalah menyatakan bahwa tidak ada agama yang paling
benar dan semua mempunyai hak terhadap agamanya.[5]
B. Landasan Kebenaran dalam Agama Islam
Dalam Islam,
seseungguhnya tidak dibenarkan sebuah ajaran yang membenarkan semua agama,
beberapa ayat yang menjelaskan hal tersebut di anataranya:
وَقُلِ
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ
فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ…
“Dan katakanlah: "Kebenaran itu
datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia
beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".[6]
Nilai-nilai yan
disebut di atas tidak boleh diubah dan diabaikan. Ia adalah harga mati karena
itu adalah haq, yakni sesuatu yang mantap dan tidak mengalami perubahan,
sebab sumbernya Allah Swt. Karena itu, siapa yang menerimanya silahkan
menerimanya dan siapa yang enggan, biar saja dia enggan.[7]
لَكُمْ
دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukkulah,
agamaku”[8]
Kata din dapat
berarti agama, atau balasan, atau kepatuhan. Sementara ulama memahami kata
tersebut di sini dalam arti balasan. Kalau din diartikan agama, ayat ini tidak
berarti bahwa Nabi mempersilahkan mereka menganur apa yang mereka yakini.
Apabila mereka telah mengetahui tentang ajaran agama yang benar dan mereka
menolaknya serta bersikeras menganut ajaran mereka, silahkan, (QS. Al-Baarah:
256).
وَإِنَّا
أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
قُلْ
لَا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ
قُلْ
يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ
الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ
“Dan sesungguhnya kami atau kamu
(orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang
nyata. Katakanlah: "Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang
dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu
perbuat".Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua,
kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha
Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui".[9]
Pada ayat di
atas terlihat bahwa ketika absolusitas di antara keluar, ke dunia
nyata,Nabi saw. tidak diperintahkan menyatakan apa yang di dalam
keyakinan tentang kemutlakan kebenaran ajaran Islam, tetapi justru sebaliknya,
kandungan ayat tersebut bagaikan menyatakan: mungkin kamu yang benar, mungkin
pula kamu; mungkin kami yang salah, mungkin pula kamu. Kita serahkan saja
kepada Tuhan untuk memutuskannya. Bahkan, diamati dari redaksi ayat di atas,
apa yang dilakukan oleh Nabi dan pengikut-pengikut beliau diistilahkan dengan pelanggaran
(sesuai dengan aggapan mitra bicara), sedang apa yang mereka lakukan dilukiskan
dengan kata perbuatan, yakni tidak menyatakan bahwa amal mereka adalah dosa
dan pelanggaran.[10]
Ayat surah ini
menanggapi usul kaum musyrikin untuk berkompromi salam akidah dan kepercayaan
tentang Tuhan. Usul tersebut ditolak dan akhirnya ayat terakhir surah ini
menawarkan bagaimana sebaiknya perbedaan tersebut disikapi. Demikian bertemu
akhir ayat surah ini dengan awalnya.[11]
C. Kesimpulan
Jadi, agama
Islam adalah agama yang benar, tetapi merealisasikan kebenaran juga tidak
seharusnya dengan kekerasan, seperti memaksa masuk ke dalam Islam, menghukum
orang-orang yang tidak masuk Islam. Tentunya hal-hal yang demikian tidak
dibenarkan dalam Islam, melainkan menyampaikan kepada mereka tentang kebenaran
sebenarnya.
Islam adalah
agama yang toleransi terhadap agama lainnya, tidak memaksa agama lain untuk
masuk ke dalam agama Islam. Tetapi jika toleransi dimaknakan untuk membenarkan
semua agama, tentu sangat tidak dibenarkan dalam Islam. Tuhan Muslim adalah
Allah bukan yang lain, jika menyamakan Allah dengan makhluk maka tentunya umat
tersebut telah melakukan sebuah kesyirikan yang merupakan dosa besar. Wallahu
a’lamu bi as-shawab.
Oleh : Chandra Pribadi
[1]
Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, (Jawa Timur: Center
for Islamic and Occidental Studies, 2010), h, 92.
[2]
Paul F. Knitter, Pengantar Teologi Agama-Agama, (Yogyakarta: KANISIUS,
2008), h, 54-55.
[3]
Adib Fuadi Nuriz, Problem Pluralisme Agama, (Jawa Timur: Centre of
Islamic and Occidental Studies (CIOS)), h, 25-27
[4]
Hazrat Inayat Khan, Kesatuan Ideal Agama-Agama, (Yogyakarta: PUTRA
LANGIT, 2003), h, 11.
[5]
Hazrat Inayat Khan, Kesatuan Ideal Agama-Agama…, h, 271.
[6]
QS. Al-Kahfi: 29.
[7]
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Vol 15, (Jakarta: Lentera
Hati, 2002), h, 684.
[8]
QS. Al-Kafirun: 6.
[9]
QS. As-Shaba’: 24-26
[10]
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Vol 15…, h, 685.
[11]
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Vol 15…, h, 686.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar